Rabu, 29 Mei 2013

Cara Mudah Memasarkan Usaha Makanan Ringan



Berbisnis makanan ringan kelihatannya mudah dan menarik untuk dilakukan, tapi setelah benar-benar terjun ke dalamnya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Penyebabnya antara lain karena banyaknya pengusaha lain yang juga terjun ke bisnis ini. Tapi jangan khawatir, bila anda ingin memulai bisnis makanan ringan, mungkin beberapa strategi sukses di bisnis makanan ringan yang akan saya bagi ini bisa menginspirasi anda agar bisnisnya lebih sukses icon smile Cara Mudah Memasarkan Usaha Makanan Ringan
Inilah beberapa strategi sukses di bisnis makanan ringan :

Buatlah nama untuk bisnis makanan Anda semenarik mungkin
Sebelum Anda membuka usaha makanan, sebaiknya Anda sudah menyiapkan nama untuk usaha Anda. Pilih nama yang menarik, unik, dan mudah diingat oleh para konsumen. Karena nama usaha menjadi image yang akan tertanam pada konsumen, pentingnya brand 250x187 Strategi Pemasaran Bisnis Makanansehingga mereka mudah untuk mengingat usaha Anda. Disamping itu hal yang perlu diperhatikan ketika mencari nama usaha, sesuaikan nama dengan usaha yang Anda jalankan. Misalnya : “Warung Steak” untuk usaha makanan khusus steak,  ” Ramen” Japanese Noodle untuk bisnis makanan khas Jepang,  atau “Kedai Jamur” untuk usaha makanan khusus jamur. Nama usaha dapat Anda tempatkan di depan lokasi usaha dengan menggunakan neon box ataupun x – baner di depan lokasi usaha Anda. Agar konsumen yang kebetulan lewat, tertarik untuk mampir membeli produk makanan Anda.
 

Rabu, 08 Mei 2013

Inspirasi Bisnis Daging Kelinci


Arief terjun ke dunia wirausaha pada 2010, setelah ‘gerah’ berkarier sebagai seniman. Mulanya, Arief bisnis abon daging kelinci. Ia membagi dan menawarkan kepada orang lain. Permintaan meningkat.

Namun, setelah setahun, Arief berhenti karena pasokan daging kelinci sangat sedikit. Kemudian Arief berpikir mengapa tidak menjadi produsen saja? Arief pun membuat www.dagingkelinci.com di bawah PT Agrovity Industries.

Modal awal Arief untuk bisnis ini sekitar Rp50 juta yang ia gunakan sebagai modal untuk membangun rumah kandang, kandang kelinci, indukan, alat perawatan, pakan dan gaji pegawai. Masalah kualitas kandang, sangat penting dalam bisnis kelinci. Yang penting sirkulasi udara bagus dan air tidak masuk. Kelinci tidak bisa kena air. Embun saja bisa membuat hewan itu borok.

Hambatan yang Arief hadapi adalah paradigma masyarakat terhadap daging kelinci. Umumnya, mereka melihat kelinci bukan sebagai ternak, namun setengah hewan peliharaan, setengah makanan. Cara mengubah hal itu, mau tidak mau, dengan menjual sebanyak-banyaknya sehingga daging kelinci menjadi hal yang umum.

Arief memiliki alasan tertentu kenapa ia percaya daging kelinci akan digemari masyarakat. Daging kelinci konon, ia bisa menjadi obat asma tradisional,  tidak memiliki lemak tak jenuh, sangat rendah kalori, tinggi protein dan kalsium. Di India, daging kelinci disebut-sebut sebagai yang paling enak. Hal inilah yang memudahkan Arief menembus pasar yang peduli terhadap gaya hidup sehat. Apalagi, ia tidak rentan terhadap virus penyakit, seperti sapi gila atau flu burung.

Strategi lain adalah melakukan sistem plasma. Arief merekrut peternak-peternak lain, memberi indukan untuk mereka ternakkan. Arief juga ikut menjaga kualitas ternak, memberi semacam target – bobot dan kuota produksi. Timbal-baliknya, Arief pasti membeli hasil mereka, berapa pun jumlahnya. Dan jika mereka menjual ke orang lain dengan harga sekitar Rp30.000, Arief bisa membeli dengan harga Rp50.000-55.000. Kalau Arief membeli dengan murah, mereka sengsara.

Saat ini jumlah produksinya mencapai 1,6 ton per bulan. Selain bergerilya menjual langsung ke orang per orang, ada permintaan besar dari Jakarta (100kg per minggu) dan Madiun (300kg per minggu). Kalau eceran, harga jual per kilogram adalah Rp75.000. Keunggulan dari produk Arief lebih karena menggunakan kelinci pilihan, persilangan antara kelinci New Zealand white dan lokal. Agar lebih awet, Arief menjual daging yang dikemas dalam plastik dan divakum.

Bisnis ini sangat potensial karena masih merupakan ‘blue ocean’ dan ‘ujung’-nya belum kelihatan. Arief percaya, usaha yang dilakukan di hulu pasti akan habis. Untuk kelinci, selain daging, kulit dan kotorannya pun bisa dijual. Lagipula, masih banyak pengembangan yang bisa dilakukan. Membuat varian produk baru,seperti nugget, menjual franchise, hingga diversifikasi bisnis.

Saat ini, Arief sedang memesan mesin pembuat pakan. Dengan begitu, nanti Arief bisa menjual pakan tersebut kepada peternak lain, sekaligus mempererat hubungan dan mencari plasma baru. (Bayu Maitra)

Senin, 29 April 2013

Kunci Sukses Memulai Bisnis untuk Pemula

Tren berwirausaha semakin santer terdengar. Di mana-mana muncul ajakan untuk meninggalkan status karyawan menjadi pengusaha. Berbagai seminar dan buku-buku tentang wirausaha pun semakin laris di pasaran.  Semakin banyak pula yang tergelitik memulainya.

Ada yang dengan mulus dan sukses, namun ada pula yang jatuh saat mulai melangkah, dan akhirnya kembali lagi menjadi karyawan.

Menjadi pengusaha memang menyenangkan. Anda tidak lagi terikat oleh jam kerja rutin yang mengharuskan Anda berangkat pagi dan pulang sore setiap hari. Dengan menjadi pengusaha, Anda bisa mengatur sendiri waktu kesibukan dan liburan Anda.

Anda yang berminat beralih menjadi pengusaha, ada baiknya memahami dahulu apa saja yang harus Anda persiapkan agar tidak gagal.

Mulailah saat masih menjadi karyawan. Jika saat ini Anda masih menyandang status karyawan, jangan buru-buru memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Namun, mulailah merintis bisnis Anda. Ingat, untuk berbisnis Anda membutuhkan uang. Sisihkanlah dari gaji Anda untuk membiayai usaha Anda. Ketika bisnis Anda sudah benar-benar menghasilkan keuntungan yang membuat Anda tak lagi bergantung kepada gaji, itulah saat yang tepat untuk keluar dari pekerjaan Anda.

Jual yang Anda suka. Banyak pegawai bank yang sukses membuka bengkel motor. Atau, politikus yang sukses dengan bisnis kulinernya. Dalam bisnis, passion memainkan peran penting. Mulailah berbisnis tentang sesuatu yang Anda suka dahulu. Jika Anda suka memancing, mungkin Anda akan sukses jika membuka toko peralatan pancing.

Jangan sambilan. Tidak ada bisnis sukses yang dijalan sebagai sambilan. Meskipun Anda tergolong pemula dalam bisnis, bukan berarti Anda tidak bisa profesional untuk mengelolanya. Pelajari bisnis Anda, lakukan riset, buat perencanaan dan diskusikanlah dengan orang-orang yang profesional di bidang itu. Rutinitas pekerjaan di kantor bukanlah alasan Anda tidak memiliki waktu untuk menjalankan bisnis Anda. Ingat, dalam bisnis yang dibutuhkan adalah keseriusan. Jika Anda serius menjalani, maka hasilnya pun akan “serius”.

Selamat berbisnis! (Wiko Rahardjo)

Selasa, 02 April 2013

Disiplin, Kunci Sukses Berwirausaha

Banyak yang mengatakan bahwa berwirausaha itu layaknya naik roller coaster: Naik dan turun, melaju dalam berbagai kecepatan, baik cepat maupun lambat, kadang di atas, kadang di bawah.

Dan saat berhenti, para wirausaha pucat pasi, merasa seolah-olah darah mereka tercecer di sepanjang jalur roller coaster tersebut. Menegangkan, sekaligus mengasyikkan.

Nah, saking asyik berkutat sebagai pengusaha, kerap kali Anda lebih sibuk mencari uang tanpa mempedulikan hal-hal yang seharusnya Anda mulai lakukan, atau bahkan yang menjadi hak Anda. Padahal, mumpung perusahaan masih kecil, inilah saat yang tepat bagi Anda untuk berdisiplin.

Berikan upah kepada diri Anda. Nyatanya, para wirausaha cenderung mengabaikan apresiasi kepada diri sendiri dalam bentuk uang. Padahal, Anda sudah bekerja, maka Anda layak digaji. Tak usah dalam jumlah yang bombastis, namun paling tidak mencukupi kebutuhan dan gaya hidup Anda sebelum mulai berwirausaha. Targetkan kenaikan gaji Anda pula, sehingga Anda semakin bersemangat. Sebaliknya, pada saat perusahaan mendapatkan penghasilan yang besar, dengan sistem ini Anda tidak tergoda untuk menghambur-hamburkannya karena tahu ‘hak’ Anda hanyalah sebesar gaji. Ya, mungkin bisa sedikit Anda tambah dengan bonus. Tetapi intinya, menggaji diri sendiri, sekalipun itu adalah perusahaan Anda, akan mendisiplinkan Anda sebagai wirausaha.

Pisahkan uang Anda dan perusahaan. Yang kerap terjadi, para wirausaha lalai membuat sistem keuangan perusahaan. Pikir mereka, ‘Toh, usahanya masih kecil.’ Padahal, memiliki sistem keuangan sejak perusahaan masih kecil akan menumbuhkan kedisiplinan di masa mendatang. Uang perusahaan pun tak akan bercampur dengan uang pribadi, dan sebaliknya, sehingga kinerja perusahaan dapat terlihat dengan nyata. Kalaupun ada uang pribadi yang terpakai perusahaan, buat catatan dan masukkan sebagai utang perusahaan. Sebaliknya, kalau Anda yang memakai uang perusahaan, juga buat catatan dan jadikan sebagai piutang perusahaan.

Asetku, asetmu. Dalam memulai sebuah usaha, wajar saja kalau Anda menggunakan aset pribadi sebagai pendukung awal. No problem. Tetapi yang Anda harus ingat adalah Anda harus selalu membuat catatan aset, berapa pun kecilnya. Bila pada akhirnya Anda merelakan aset tersebut menjadi milik perusahaan, lakukan pembaruan pada daftar aset. (Antono Purnomo)