Jumat, 16 September 2011

Surat untuk anak ku

Kami Dapat Membayangkan Wajahmu


Anakku Tercinta,
Seperti baru kemarin rasanya ketika tangan kecilmu berada di genggaman kami. Kami masih dapat membayangkan wajahmu ketika baru dapat berjalan. Tetapi waktu adalah perampok, mencuri saat-saat kamu tumbuh. Kami dapat melihat sekarang, kamu sudah dewasa. Bagaimana bisa terjadi dimana rasanya baru kemarin kami mengantarkanmu di hari pertamamu masuk sekolah?
 



Kami melihat kamu begitu cemas menghadapi masa depanmu. Dan kami merasa cemas juga, bukan karena kamu tidak akan sukses, tapi karena kami harus melepaskanmu. Kami harus merelakanmu memilih jalan yang kamu pilih. Ketahuilah bahwa kami di sini jika kamu membutuhkan nasehat kami. Kami harap kamu masih sudi untuk bertanya. Ketahuilah bahwa kami menginginkan yang terbaik untukmu, tetapi bagaimanapun kamu harus memutuskan sendiri.

Sejak kamu lahir, kami telah dipenuhi oleh mimpi-mimpi akan tempat yang kan kamu kunjungi, dan orang-orang yang akan kamu temui. Menyadari bahwa suatu saat, kamu akan pergi mencari pengalamanmu sendiri. Bawalah bersamamu cinta kami. Membuatmu nyaman ketika kamu sedang resah. Bawalah harapan kami bersamamu. Semoga dapat menjadi keberanian di saat kamu menghadapi kekalahan. Bawalah segala cahaya yang kami punya. Semoga dapat menjadi penerang jika kamu mengalami kegelapan.

Ini adalah proses dari kehidupan dan tujuan hidup kita. Kami diberkahi dalam segala hal, tapi kamu, anak kami, telah menjadi berkah terbesar buat kami. Kami akan selalu di sini menyayangimu.

Ayah Bunda mu,

Surat Buat Mama


Entah kenapa pagi ini aku berniat membangunkan Kak Mitha. Tidak biasanya, ku ingin mengajaknya salat subuh. Mungkin aku ingin dia berubah dan kembali ke jalanNya, atau... apa mungkin karena pertengkaran kemarin dengan mama?

Entahlah, tapi yang jelas, saat pikiranku masih berkutat, tanganku sudah mengayun untuk mengetuk pintu kamarnya.
" Kak..?"

Kutunggu balasan untuk beberapa saat. Hening.
" Kak?"

Aku memanggilnya untuk kedua kali. Kali ini dengan nada lebih tinggi.
Tetap hening. Tak satupun sahutan keluar dari dalam.
Ah, bodohnya aku. Sejak kapan Kak Mitha bisa bangun sepagi ini? Biasanya toh ia paling cepat bangun jam tujuh. Itupun jika ada kuliah di kampusnya.
Tapi tubuhku tidak mau berkompromi. Tetap saja kuketuk pintu kamarnya untuk ketiga kali.
" Kak, salat yuk...?"

Pengorbanan Ibu

Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.

Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telahelahirkan seorang bayi haram tanpa bapa. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love - Kasih.

Kamis, 01 September 2011

"The Power Of Kepepet"

"The Power Of  Kepepet"

Ini hanyalah cerita fiktif belaka. jika terjadi kesamaan nama dan tempat, mohon dimaafkan .

Dahulu, di sebuah negeri nan subur hiduplah masyarakat yang makmur dan saling menyayangi satu dengan yang lain. sebut saja negeri LADDALAND.

Di negeri Laddaland mempunyai seorang raja bernama raja "MAKHIN" yang sangat bijaksana, raja sebut telah berusia lanjut, tapi malang nasibnya. Sang raja tidak mempunyai putra mahkota untuk mewarisi tahta kerajaannya tersebut. dan sekarang raja telah sakit-sakitan memikirkan masalah tersebut.

Raja pun sering melamun dan sering lupa makan dan beristirahat, hal itulah yang memperburuk kondisi badan raja. tetapi untungnya sang raja mempunyai seorang patih bernama "NAT" yang selalu mendampingi raja. sampai akhirnya penasehat NAT berpikir keras untuk membantu menyelesaikan masalah raja yang sangat serius ini, dan akhirnya Penasehat NAT mempunyai ide yang sangat brilliant. 

 Keesokan harinya, Penasehat NAT menghadap raja MAKHIN.