Minggu, 05 Agustus 2012

POHON MASA DEPAN

POHON MASA DEPAN

Di suatu senja, Aku dan ibu masih berpeluh dengan segala tanaman di kebun belakang rumah. Ibu masih asyik dengan cangkulan baru untuk tanaman berikutnya. Sedangkan aku masih setia menemani ibu menyiangi rumput-rumput liar di sudut-sudut kebun. Aku tahu saat itu ibu sedang bersemangat menanam pohon-pohon berbuah yang bisa dipetik hasilnya. Ada durian, rambutan, jeruk, apel, jambu, nanas, pisang. Sepertinya ibu ingin melengkapi rupa-rupa pohon buah di kebun kesayangannya. Kebun yang tak begitu luas itu pun akhirnya terisi dengan berbagai tanaman kesukaan ibu. Meski aku sendiri sangat menyangsikan apakah pohon apel yang ditanam ibu akan berbuah nantinya. Mengingat di daerahku jarang sekali ditemukan pohon apel.

Lepas menanam pohon, aku dan ibu rehat di sebuah dudukan tepat di bawah pohon yang rindang. Aku dan ibu bercerita.


Aku      : Bu, untuk apa sih ibu nanam pohon ini semua? Beli aja buah-buahan kan lebih    mudah bu? Murah lagi. Ngapain capek-capek nanam pohon-pohon ini segala? Kan repot juga bu ngerawatnya?
Ibu          : Nak, Pohon-pohon ini ibu tanam untuk anak-anak Ibu juga. Nanti, ketika anak-anak ibu pergi merantau di kota orang. Mereka telah menikah dengan pilihan hatinya. Pasti ibu akan kesepian. Biarlah... Bagi ibu, kalaupun anak-anak ibu nggak merindukan ibu di sini. Biarlah mereka rindu memetik tanaman buah-buahan ibu ini. Biarlah... Bagi ibu, asal mereka pulang saja itu sudah sangat membahagiakan ibu. Ya, suatu saat nanti ketika anak-anak ibu telah punya kehidupan sendiri. Saat bersama pendamping hidupnya.
Aku          : (Speechless, Sambil memeluk Ibu) ‘’Tada Sayang Ibu, Bu”

**************************************

Seringkali kita sebagai anak tak menyadari tentang apa yang orangtua lakukan semuanya diberikan hanya untuk putra/i kesayangannya. Coba ingat kembali pada masa-masa kalian bersekolah. Saat kalian duduk di bangku sekolah dasar. Saat hendak pergi ke sekolah. Saat sarapan masih disuapin. Masih minta uang jajan sebelum berangkat sekolah. Masih cemberut ketika pinta tak terpenuhi. Saat kalian masih bisa meminta ibumu memasak makanan kesukaan kalian. Apapun pintamu, sepertinya semua dipenuhi ayah-ibumu.

Ketika kini engkau telah beranjak dewasa, di sudut kebun ibu masih menanam pohon masa depan. Pohon-pohon itu semua demi putra/i-nya. Tak hanya itu, ia melebarkan rumahnya yang kecil. Meluaskan kamar-kamar di rumahnya dengan harapan akan datangnya anak serta cucu kesayangannya suatu saat nanti di rumahnya itu. Ia bertanya, “Nak, Kalau kamu nanti sudah menikah dan tinggal jauh dari ibu, Kamu mau ibu masakin apa jika ibu berkunjung ke rumahmu nanti?” Inilah pertanyaan yang sering buat air mata ini tak bisa tertahankan. Ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk putra/i-nya. I really love you, Mother...
You might also like:

    Dari Ibu, Aku Belajar Berbagi
    Pengabdian Bunda
    Cita-Cita Ibunda


Tidak ada komentar:

Posting Komentar